Kunjungan Bersejarah Paus Leo XIV

Kunjungan Bersejarah Paus Leo XIV: Dari Masjid Biru Hingga Gereja Ortodoks di Istanbul

Paus Leo XIV, paus Amerika pertama dalam sejarah, melanjutkan kunjungan bersejarahnya ke Turki. Di Istanbul, ia menghadirkan pesan dialog antar iman dan persatuan Kristen. Ribuan umat berjuang melawan hujan untuk bergabung dengannya. Mereka menghadiri misa di hari terakhir kunjungannya. Kunjungan ini penuh dengan simbolisme penting.

Bentuk Penghormatan di Masjid Biru Tanpa Doa

Paus Leo XIV mengunjungi Masjid Biru yang ikonik pada hari Sabtu. Langkah ini mengikuti jejak para pendahulunya. Ia melepas sepatunya sebagai tanda penghormatan. Namun, tindakannya ini berbeda dari para paus sebelumnya. Ia tidak berdoa di dalam masjid.

Vatikan awalnya menyatakan paus akan mengamati “sejenak doa hening”. Namun, kenyataannya, ia tidak melakukannya. Imam masjid, Asgin Tunca, mengaku telah mengundang paus untuk berdoa. Ia mengatakan masjid itu adalah “rumah Allah”. Namun, paus dengan sopan menolak undangan tersebut.

Kemudian, juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, memberikan klarifikasi. Ia mengatakan paus mengalami kunjungan itu dalam keheningan. Paus menunjukkan rasa hormat yang dalam terhadap tempat tersebut. Ia juga menghormati iman mereka yang berdoa di sana.

Tindakan Paus Leo XIV ini menarik untuk dibandingkan dengan pendahulunya. Setiap paus memiliki pendekatan yang berbeda. Perbedaan ini mencerminkan nuansa dalam dialog antar iman.

Paus
Tahun Kunjungan
Tindakan di Masjid Biru
Konteks Kunjungan
Yohanes Paulus II2001 (di Suriah)Kunjungan singkat ke sebuah masjid.Paus pertama yang mengunjungi masjid.
Benediktus XVI2006Mengamati doa hening dengan kepala menunduk.Memperbaiki hubungan setelah komentar kontroversial tentang Islam.
Fransiskus2014Berdoa hening selama dua menit menghadap timur.Menekankan persahabatan dan dialog antar iman.
Leo XIV2025Tidak berdoa, hanya mengunjungi dalam keheningan.Fokus pada kontemplasi pribadi dan pengamatan.

Langkah Menuju Persatuan Kristen bersama Patriark Ortodoks

Selanjutnya, paus fokus pada upaya persatuan Kristen. Ia bertemu dengan pemimpin spiritual umat Gereja Ortodoks dunia, Patriark Bartholomew. Pertemuan bersejarah ini berlangsung di Gereja Patriarkal Saint George. Di sana, mereka berdoa bersama.

Kedua pemimpin agama ini menandatangani deklarasi bersama. Mereka berjanji untuk mengambil langkah berani menuju persatuan. Salah satu poin penting adalah mencari tanggal yang sama untuk perayaan Paskah. Ini adalah langkah signifikan mengingat perpecahan yang telah berlangsung lama.

Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks terpisah sejak Skisma Besar tahun 1054. Perpecahan ini dipicu oleh perselisihan tentang primasi paus. Meskipun hubungan telah membaik, mereka tetap terbagi.

Deklarasi bersama itu menyatakan keinginan bersama. Mereka ingin menemukan solusi untuk merayakan “Pesta dari semua Pesta” setiap tahun. Ini merujuk pada perayaan Paskah. Paus Leo XIV juga mengundang mereka ke Yerusalem pada Tahun Suci 2033. Ia menyebutnya sebagai “perjalanan yang mengarah pada persatuan penuh”.

Misa bagi Umat Katolik Minoritas dan Pesan Global

Di penghujung kunjungan, Paus Leo XIV memimpin misa. Acara ini berlangsung di Volkswagen Arena, Istanbul. Misa ini ditujukan bagi komunitas Katolik di Turki. Komunitas ini berjumlah sekitar 33.000 orang. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan populasi total Turki yang lebih dari 85 juta orang. Sebagian besar penduduknya adalah Muslim Sunni.

Renato Marai, seorang pengunjung dari Italia, mengungkapkan kegembiraannya. “Saya merasa sangat terhormat bisa berada di sini pada tur internasional pertamanya,” tuturnya. Ia datang bersama rombongan 26 orang.

Di sisi lain, Tarcin Unlu, seorang mantan Muslim yang baru pindah agama, hadir. Ia mengakui keluarganya tidak bahagia dengan pilihannya. Temannya, Rodrick Nuel dari Nigeria, menambahkan. Kunjungan paus mengirim “pesan yang kuat untuk komunitas Kristen global“. Ia juga menyoroti pentingnya paus menjangkau agama lain di negara mayoritas Muslim.

Sementara itu, panitia penyelenggara menghadapi masalah teknis. Pesawat charter paus, sebuah Airbus A320neo, terkena pembaruan perangkat lunak. Maskapai harus menunggu monitor dan teknisi dari Roma. Namun, hal ini tidak mengurangi makna spiritual dari kunjungan bersejarah tersebut.